Aims

  • To introduce ordinal numbers

  • To read more about education, and to use this to talk more about your own education

Vocabulary Review

Here are some of the frequent words used in this lesson that have appeared in previous lessons. Check that you remember their meanings. Use the flashcards to memorize them.

berkebun,  bingung, bulan,  hasil pertanian,  kedua,  lakukan,  masih,  membawa,  memelihara,  memilih,  pertama,  pindah,  sapi,  sawah,  selesai,  setuju,  sukar,  tahu,  terkenal, tertarik (pada), ujian,  usaha tani


Ordinal Numbers

As the term “ordinal” suggests, ordinal numbers are those that indicate the order in which things appear in a sequence or a list. In English, ordinal numbers start with “the first” and go on to “the second”, “the third”, “the fourth” and so on.

In Indonesian, the term for “first” is yang pertama. After yang pertama, all ordinal numbers are formed with total regularity by attaching the prefix ke- to the cardinal number concerned and putting yang in front. Thus

yang kedua
the second
yang ketiga
the third
yang kedua puluh
the twentieth
yang keseratus
the one hundredth
 

Talking about Education II

In the previous lesson you sketched your education. Now let’s try to put more colour into this picture. Here is how an agricultural professional might describe their education. Read the account carefully, because, with appropriate modifications, you will find that you can incorporate parts of it into your own narrative.

When you are finished, do Latihan 2-9 to check your understanding of this passage.

Pendidikan Seorang Ahli Pertanian


Nama saya Lukas Mitang. Saya lahir di kota Bajawa di Pulau Flores pada tahun 1978. Saya mulai belajar di sekolah dasar “Budi Luhur” di Ende. Saya belajar di sana selama enam tahun, dari 1984 sampai 1990. Saya belajar membaca, menulis dan matematika dasar. Waktu belajar di SD saya tinggal dengan kakak saya yang bekerja di Ende. Sesudah lulus sekolah dasar pada tahun yang keenam saya masuk Sekolah Menengah Pertama di Kupang pada tahun 1991. Di SMP Kupang saya mengambil mata pelajaran Pancasila, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, ilmu ekonomi, sejarah Indonesia dan ilmu pengetahuan. Saya juga belajar olahraga. Waktu di SMP saya senang sekali bermain bulu tangkis.

Bena village
Kampung Bena dekat Bajawa (Flores). © Ng Sebastian

 

Lalu pada tahun 1994 saya masuk Sekolah Teknik Menengah Atas di Kupang. Sekolah Teknik Menengah Atas itu sekolah kejuruan. Waktu itu saya berumur enam belas tahun. Saya belajar di STMA selama tiga tahun. Di STMA saya mengambil mata pelajaran matematika, bahasa Inggris, teknik pertanian dan ilmu ekonomi pertanian. Saya lulus dengan hasil yang baik. Sesudah selesai belajar pada tingkat sekolah menengah atas saya pindah ke Yogyakarta di Pulau Jawa. Saya ikut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru di Yogyakarta dan saya memperoleh hasil yang baik. 

Pada waktu itu saya menjadi bingung karena tidak tahu harus belajar apa. Saya juga tidak tahu sebaiknya belajar di mana. Jadi saya berbicara dengan paman saya yang menjadi pegawai negeri Departemen Pendidikan Nasional di Yogyakarta. Paman saya mengatakan sebaiknya memilih universitas Katolik saja dan mengambil teknik pertanian karena waktu saya belajar pada tingkat sekolah menengah atas saya pandai dalam mata pelajaran matematika. Tetapi bibi tidak setuju. Menurut bibi, saya lebih pandai dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Jadi katanya sebaiknya mengambil bahasa Inggris saja di tingkat universitas. Bibi juga mengatakan sebaiknya saya jangan masuk universitas swasta seperti universitas Katolik. Lebih baik masuk universitas negeri, katanya.

Tentu saja saya menjadi lebih bingung lagi karena tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Sesudah berpikir lama saya memilih kuliah teknik pertanian tetapi bukan di universitas Katolik. Katanya jurusan teknik pertanian di Universitas Gadjah Mada cukup baik. UGM itu universitas negeri. Dosen di UGM terkenal pandai dan laboratoriumnya juga bagus. Jadi saya masuk Fakultas Pertanian di UGM. 

Pada tahun yang pertama saya mengambil mata kuliah ekonomi pertanian, bahasa Inggris dan teknik dasar. Untuk saya mata kuliah ekonomi pertanian menarik sekali. Saya sangat senang ikut kuliah ilmu ekonomi pertanian. Saya juga tertarik pada kuliah bahasa Inggris. Mata kuliah bahasa Inggris sukar tetapi saya lulus dengan hasil yang baik. Pada tahun yang kedua saya mengambil mata kuliah ilmu ekonomi pertanian dan bahasa Inggris lagi. Di samping itu saya mengambil mata kuliah teknik mesin dasar dan matematika. Pada tahun yang ketiga saya mengambil teknik mesin dan bahasa Inggris. Saya lulus ujian bahasa Inggris dan teknik mesin dengan hasil yang baik tetapi hasil saya dalam mata kuliah matematika kurang baik. 

Pada tahun yang keempat saya mengambil mata kuliah sosiologi pertanian. Selama tiga bulan kami harus tinggal di desa dengan keluarga petani. Setiap hari kami membantu para petani bekerja di sawah, berkebun, dan memelihara sapi, kerbau, ayam dan kambing. Kami juga membantu membawa hasil pertanian ke pasar.

Sesudah empat tahun belajar di UGM saya lulus dengan gelar Sarjana pada tahun 2008. Pada tahun yang pertama sesudah lulus saya tidak bekerja tetapi pada tahun kedua saya memperoleh pekerjaan pada sebuah usaha tani di dekat kota Ungaran. Sampai sekarang saya masih bekerja pada usaha tani itu tetapi saya mencari pekerjaan di Pulau Flores. Saya ingin sekali bekerja di Flores karena saya lahir di sana dan ingin membantu pembangunan di pulau itu.

 

Affixation

You may have noted that many Indonesian words are morphologically complex. The word kejuruan, for instance, consist of the root juru (skilled workman) and has a prefix (ke-) and a suffix (-an) attached to it. A combination of prefix and suffix is also known as a circumfix. The circumfix ke-...-an here has the function to form the abstract noun kejuruan (vocation). In the coming weeks and months you will learn more about affixation, which is the morphological process whereby an affix (prefix and/or suffix) is attached to a root or stem of a word. For those who want to know more now (note that this activity is entirely voluntarily), feel free to click on "read more" to download a pdf file where the most common Indonesian affixes are explained. [read more]

WAU

Exercise 70-01: Talking About Your Education

To complete this exercise, log in to the Web Audio Utility and select Exercise 70-01.

Write an extended account of your own schooling. Use the passages Sistem Pendidikan Sekolah di Indonesia (bagian satu and bagian dua) in Lessons 67 and 68, plus Perguruan Tinggi di Indonesia and “Talking About Your Education” in Lesson 69, as well Pendidikan Seorang Ahli Pertanian in this lesson as your main sources of language. In fact your account should consist mostly of material copied verbatim from all these sources. But make appropriate changes, deletions and additions, so that what you write fits with your own experience.

When you have finished writing and have checked that your account is grammatically correct and personally authentic, recite it out loud several times from memory. Keep as close to your written account as your memory will permit (glancing at it from time to time if necessary), but add a few variations and embellishments as you speak. When you are feeling confident enough about your speaking, record it.

Close
content goes here